Langsung ke konten utama

Upaya transfpormasi Ajaran

 I ndonesia adalah negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia. Di bandingkan Saudi Arabia sekali pun, jumlah kaum Muslim Indonesia tetap lebih besar. Namun demikian, jumlah yang banyak tidak selalu mencerminkan bahwa ajaran Islam telah diaplikasikan secara baik dalam kehidupan sehari-hari. Sebab realitas menunjukkan bahwa ajaran Islam banyak yang dilanggar oleh umat Islam sendiri. Salah satu contohnya disiplin. Menepati janji dan menepati waktu merupakan salah satu ajaran Islam yang termaktub dalam alQur’an. Ritual-ritual Islam juga sarat dengan ajaran disiplin. Shalat misalnya, harus dilaksanakan pada waktu yang telah ditentukan. Demikian juga, sahnya shalat juga telah ditentukan. Mereka yang melanggar ketentuan ini tidak akan sah shalatnya. Ajaran disiplin pada ibadah shalat telah melingkupi hidup seorang Muslim, minimal lima kali sehari semalam. Tetapi disiplin dalam ajaran shalat ini tidak bergerak ke tataran aplikasi kehidupan yang lebih luas. Selesai shalat, selesai juga ajaran disiplinnya. Puasa juga contoh ibadah yang sarat dengan kedisiplinan. Makan waktunya diatur. Siang hari harus berdisiplin diri yang kokoh untuk tidak makan, tidak minum, dan berhubungan seks. Puasa Ramadhan selama sebulan penuh merupakan wahana disiplin yang luar biasa. Tempaan ajaran ini seyogyanya mampu membentuk kepribadian yang sarat dengan kedisiplinan. Namun realitasnya tidaklah semacam itu. Disiplin waktu juga masih menjadi persoalan serius. Nyaris setiap acara selalu molor dari jadwal. Sangat jarang ada kegiatan tepat waktu. Kondisi semacam ini tentu berbeda dengan negaranegara non-Muslim yang memiliki tingkat disiplin sangat tinggi. Dalam hal disiplin, Jepang adalah contoh yang layak untuk ditiru. Kedisiplinan tinggi yang mengantarkan Negeri Matahari Terbit tersebut mampu melaju cepat sebagai negara maju. Begitu disiplinnya hingga kereta api pun berjalan dengan ketepatan tidak hanya pada menit, tetapi hingga ke detik. Luar biasa. Dalam hal kebersihan, umat Islam juga masih banyak yang belum memiliki tradisi yang baik. Pentingnya kebersihan tidak hanya ada dalam al-Qur’an dan Hadits, tetapi juga dalam mahfudzat yang banyak diajarkan di berbagai lembaga pendidikan Islam, termasuk pesantren. Tetapi harus jujur diakui, banyak lembaga pendidikan Islam yang justru kurang mencerminkan penghargaan terhadap kebersihan. Sekitar satu abad lalu, pembaharu dari Mesir, Mohammad Abduh, mendapat kesempatan ke Perancis. Dalam kunjungan ini, Abduh merasakan keterkejutan yang luar biasa. Ada banyak hal yang sama sekali tidak terbayangkan. Perancis adalah negara sekuler yang kurang memperhatikan persoalan agama. Tetapi dari perilaku masyarakatnya, mereka justru banyak yang menerapkan ajaran Islam. Disiplin, ramah, penegakan hukum, menghormati sesama, dan berbagai nilai-nilai Islam lainnya telah mereka aplikasikan. Mengamati fenomena semacam ini, Abduh kemudian menyimpulkan, “Saya menemukan Islam di Perancis, tetapi saya tidak menemukan umat Islam di sana”.

Pernyataan ini secara jelas menunjukkan bahwa Islam sebagai ajaran justru dipraktekkan oleh umat yang tidak memeluk ajaran Islam. Sementara umat Islam sendiri justru kurang memperhatikan terhadap ajaran agamanya. Apa yang terjadi di Perancis maupun negara-negara maju lainnya dapat disebut sebagai “Islam aktual”. Sementara umat Islam yang belum menjalankan sepenuhnya ajaran Islam dapat dikategorikan sebagai “Islam Potensial”. Menarik menyimak pengalaman Romi Satrio Wahono, seorang peneliti LIPI dan pendiri IlmuKomputer.com. Romi tinggal selama 10 tahun di Jepang saat studi S1, S2, dan S3. Dalam salah satu tulisannya, Romi menuturkan bahwa kadangkadang orang Jepang itu berperilaku lebih Islami. Sifat ihtirom (hormat) terhadap orang tua, akhlak terhadap tetangga, saling memberi hadiah kepada orang lain selagi mendapatkan rezeki lebih, kemudian juga dengan sistem pendidikan formal yang mengajarkan moral dan perilaku hidup mandiri dan sopan santun. Bukan maksudnya untuk mengunggulkan negara Barat dan negara non-Muslim lainnya, tetapi perspektif ini ingin membangun pemahaman bersama bahwa umat Islam banyak yang abai terhadap nilai-nilai dan ajaran Islam sendiri. Sementara umat non-Muslim yang tidak banyak mengerti ajaran Islam justru menerapkan Islam itu sendiri. Walaupun pada sisi yang lain, banyak juga perilaku mereka yang jauh dari nilai-nilai Islam. Menurut saya, Islam itu dapat dibagi menjadi empat level. Level pertama adalah akidah. Ini yang menjadi ukuran apakah seseorang itu Muslim atau bukan. Kepercayaan terhadap rukun Islam dan rukun Iman menjadi parameter untuk menentukan keber-Islam-an seseorang. Pada level ini, jelas yang disebut Islam hanyalah umat yang meneguhkan keyakinannya pada ajaran Islam. Umat di negara-negara Barat maupun negara maju lainnya tidak disebut sebagai seorang Muslim manakala tidak meyakini akidah Islam, walaupun mereka menerapkan ajaran Islam. Pada level kedua adalah syari’ah. Keislaman seseorang harus disempurnakan dengan menjalankan ajaran Islam, seperti shalat, zakat, puasa, dan haji. Pada tataran ini, hanya orang Islam saja yang menjalankan ibadah yang telah disyari’atkan tersebut. Level ketiga adalah tsaqafah atau gerakan. Dan level keempat adalah ijtima’iyyah atau sosial kemasyarakatan. Kedua level ini dapat dijalankan oleh orang Islam maupun non-Islam. Contohcontoh kasus mengenai bagaimana orang Barat menjalankan spirit ajaran Islam berada pada level ketiga dan keempat ini. Mereka menjalankan ajaran Islam, walaupun mereka bukan umat Islam. Realitas ini seyogyanya menjadi bahan refleksi bersama betapa keberislaman kita memang harus disempurnakan hingga level ketiga dan keempat. Secara aktual, keberislaman kita lebih didominasi oleh Islam aktual pada lavel pertama dan kedua, sementara pada level ketiga dan keempat lebih banyak bersifat potensial. Potensi adalah sesuatu yang tidak akan banyak berarti manakala tidak diberdayakan. Spirit gerakan dan sosial-kemasyarakatan yang selaras dengan ajaran Islam harus diperjuangkan jika ingin Islam menjadi parameter kemajuan. Memang bukan hal mudah untuk melakukannya. Tetapi tanpa kesadaran dan kemauan untuk melakukannya, Islam akan semakin tertinggal jauh dari umat yang lain. Oleh karena itu, sembari tetap memperkuat level pertama dan kedua, penting untuk menyusun agenda secara sistematis dan berkelanjutan pada level ketiga dan keempat. Hanya dengan cara demikian, Islam aktual akan mampu mewarnai dinamika kehidupan yang penuh tantangan di zaman modern ini.



-billqishofc

Komentar

Postingan populer dari blog ini

LIFE GOALS ?

Hallo Desember, akhir penutup tahun 2020 Tepat di usia gue yang menginjak dewasa,Gue  memikirkan banyak hal, seperti “Apa sih yang mau Gue capai dalam hidup?” atau “kalau gue meninggal, hal apa yang ingin gue tinggalkan?” Pertanyaan — pertanyaan ini lah  y ang membuat gue berpikir, kalau gue ingin membuat Life Goals! Sebelumnya gue adalah orang yang akan selalu membuat resolusi setiap tahun, Long Term Goals dengan durasi 10 tahun, tapi kali ini gue merasa gue butuh goals untuk seumur hidup! Life Goals adalah hal yang ingin kamu wujudkan, yang penting dalam hidup kamu di berbagai aspek kehidupan. Itulah kenapa Life Goals setiap orang akan berbeda, kamu tidak akan bisa “nyontek” karena apa yang penting dan berarti dalam hidup setiap orang tidak lah sama. Jadi gini, mungkin dari sebagian temen temen kebayakan awalnya mikir itu pertanyaan becandaan doang, bener sih bercanda doang. Tapi temen temen, kalo kita telaah dengan baik, itu cukup menyindir buat sebagian orang khususnya ana...

pandangan Islam dalam menyikapi permasalahan anak muda "Pacaran VS Jomblo"

 Pada masa kini, banyak pemuda dan pemudi yang miris, karena mereka sangat erat dengan tren berpacaran. Muncul pemahaman bahwa tak punya pacar alias jomblo seperti kalian (hehe) itu adalah menyedihkan.  Bahwa muncul pemahaman kalau pemuda dan pemudi yang baik adalah pemuda dan pemudi yang punya pacar alias tidak jomblo. Kalaupun demikian, sungguh miris juga bagi saya karena saya juga tidak punya pacar, alias jomblo. hehehe.  Namun apakah benar kalau pacaran itu enak kawan-kawan sekalian? Ada yang bilang pacaran itu enak, tapi pas putus bikin mewek. Ada yang bilang pacaran itu membuat bahagia, tapi kenyatannya banyak yang galau setelah punya pacar. Kok tahu ustadz? Ya saya pernah baca-baca berita saja, karena saya selalu saja jomblo, hehehe. Ada kisah, seorang laki-laki bernama Adi. Dia laki-laki setia dan mencintai Fitri. Fitri pun mencintai Adi dan mereka memutuskan pacaran. Setiap waktu isinya hanya jalan-jalan, kalau tidak bertemu katanya keduanya galau, kalau tidak ja...

Pembahasan Fiqih

 Fiqih menurut bahasa berarti ‘paham’, seperti dalam firman Allah: “Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun?” (QS. An Nisa: 78) dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya panjangnya shalat dan pendeknya khutbah seseorang, merupakan tanda akan kepahamannya.” (Muslim no. 1437, Ahmad no. 17598, Daarimi no. 1511) Fiqih Secara Istilah Mengandung Dua Arti: Pengetahuan tentang hukum-hukum syari’at yang berkaitan dengan perbuatan dan perkataan mukallaf (mereka yang sudah terbebani menjalankan syari’at agama), yang diambil dari dalil-dalilnya yang bersifat terperinci, berupa nash-nash al Qur’an dan As sunnah serta yang bercabang darinya yang berupa ijma’ dan ijtihad. Hukum-hukum syari’at itu sendiri. Jadi perbedaan antara kedua definisi tersebut bahwa yang pertama di gunakan untuk mengetahui hukum-hukum (Seperti seseorang ingin mengetahui apakah suatu perbuatan itu wajib atau sunnah, haram atau makruh, ataukah m...