____
Pada awal kemunculannya di Yunani, pada masa itu terdapat sekelompok orang yang menyebut diri mereka sebagai sofis (ilmuwan, bukan bijakawan). Akan tetapi, mereka melacurkan ilmunya. Mereka mengibuli masyarakat demi beroleh keuntungan materil.
Pada kondisi itulah, Sokrates tampil. Sokrates menyebut dirinya filosof. Yakni, orang yang mencintai pengetahuan. Sokrates enggan disebut sebagai orang yang mengetahui, dia lebih suka disebut pecinta pengetahuan. ( M.T Mishbah Yazdi, Daras Filsafat, jilid 1, hal 26)
Kala itu, Phitia, wanita suci di kuil kuno, mengumumkan bahwa Sokrates adalah orang yang paling berilmu di Yunani. Mendengar itu, Sokrates bingung. Dia bertanya, apa yang saya ketahui hingga saya disebut sebagai orang yang paling berpengetahuan. Akhirnya, Sokrates berseru, yah satu-satunya hal yang saya ketahui adalah saya tidak tahu apa-apa. (Mustafa Malikian, tarikh-e felsefe-ye garb, jilid 1, hal 112)
Dalam bahasa Persia, ketika menerjemahkan filosof secara etimologi, mereka menyebutnya "dusdor-e donesh, donoi, elm, wa hekmat". Yakni, pecinta pengetahuan. Lihat misalnya, buku daras filsafat, jilid 1, hal 26. Murtada Muthahhari, osynoi bo ulume islami, hal 126.
Dalam bahasa Arab, filsafat dipadankan dengan hikmah. Dan hikmah, kemudian dipadankan dengan kebijaksanaan dalam bahasa Indo.
Jadi, pada awalnya, secara etimologi, filosof yakni pecinta pengetahuan. Jika kebijaksanaan berada dalam kategori pengetahuan, bukan tindakan, maka sudah benar jika filsafat juga dietimologikan dengan cinta kebijaksanaan.
Pada masa klasik, filsafat meliputi semua ilmu hakiki, semisal fisika (thobi'iyyat), matematika (riyadhiyyat), metafisika (ilahiyyat), ilmu akhlak (akhlaqiyyat), politik (siyasiyyat), dan manajemen keluarga (manziliyyat). Tiga yang pertama adalah filsafat teoretis. Tiga yang terakhir disebut filsafat praktis. Filosof paripurna yakni mereka yang mengetahui semua ilmu di atas.
Dengan mengacu pada makna klasik tersebut, Mulla Sadra menyebut filsafat (hikmah) sebagai; "Istikmalun nafsil insaniah bi ma'rifati haqoiqil maujudat ala ma hiya alaiha..." Yaitu penyempurna jiwa manusia dengan mengetahui hakikat realitas sebagaimana realitas.
Atau dikatakannya lagi, filsafat membentuk manusia menjadi alamun aqliun mudhohiun li alamil khoriji (alam internal yang serupa dengan alam eksternal, atau manusia semesta). Tentu, caranya adalah mengetahui semua ilmu hakiki yang disebut di atas. Lihat, Asfar, jilid 1, hal 20. Jawadi Amuli, felsefe-ye sadro, jilid 1, hal 23, 24, 27. Muthahhari, osynoi bo ulume islami, hal 130.
___
Walhasil, atas dasar di atas, saya mengetimologikan filsafat sebagai cinta pengetahuan, dan filosof sebagai pecinta pengetahuan. Artinya, jika anda mencintai pengetahuan, maka gunakan pengetahuan anda dalam misi harmonisasi, sebagai alat pencerahan dan pengkhidmatan pada sesama. Bukan sebagai sarana mengibuli masyarakat.
Sekali lagi, mengetimologikan filosof/filsafaf dengan pecinta/cinta kebijaksanaan juga benar, bila kebijaksanaan berada dalam ranah pengetahuan, bukan tindakan.
_billqishofc
08:46 PM
Komentar
Posting Komentar