Langsung ke konten utama

Bisa Jadi, Suara Azan kalah dengan suara lonceng gereja!

Mungkin dari banyak sedikit para pemikir peradaban bertanya tanya, apa sih ulasannya antara suara Azan dan Gereja ?

Berikut penjabarannya :

 Para orientalis dan misisonaris telah lama menyusun strategi untuk menaklukkan umat islam di Indonesia. Salah satu strategi utamanya adalah menerapkan pendidikan barat yang akan menjauhkan umat Islam dari Agamanya sendiri. jika umat islam tidak serius menghadapi tantangan ini, menurut Moh. Natsir, bukan tidak mungkin, suatu ketika suara azan akan kalah dari lonceng gereja!

Tahun 1191, Snouck Hurgronje menerbitkan bukunya yang berjudul "Netherland en de Islam". Buku ini berisi pemikiran dan strategi untuk menghadapi islam di Indonesia, Diantaranya :

1. Dalam bidang yang murni agama, pemerintah dan para pejabat pejabatnya harus menjamin dan memelihara kebebasan mutlak,

2. Dalam bidang politik, kebebasan itu harus dibatasi 'untuk kepentingan bersama'

3. Dalam bidang hukum islam, Pemerintah harus menjauhi intervasi yang dipaksakan, sekalipun harus mendorong kearah evolusi hukum sebanyak mungkin.

4. Garis garis kebijaksanaan yang kurang lebih negatif ini harus menuju kearah tujuan yang postif, yaitu kemajuan orang orang islam yang harus dibebaskan dari beberapa 'peninggalan ajaran abad pertengahan yang tidak berguna dan menyeret mereka hingga ddemikian lamanya', agar  dengan adanya jalan ini, dengan perantaraan pendidikan dan pengajaran - dapat memperoleh kesempatan "asosiasi" kultural dengan budaya barat. ( Dikutip dari buku : Mukti Ali, ilmu perbandingan agama di Indonesia,(th 1998) hal. 32).

Tahun 1938, Moh Natsir meniulis sebuah artikelberjudul " Suara azan dan onceng Gereja". Natsir membuat tulisannya dengan untaian kalimat berikut : 

"sebaik baik menentang musuh ialah dengan senjatanya sendiri! Kaidah ini dipegang oleh Zending dalam pekerjaannya menasranikan orang Islam. Tidak ada satu agama yang menyusahkan zending dan missi dalam pekerjaan mereka daripada agama Islam.

Artikel Mohammad Natsir ini mengomentari hasil Konferensi Zending Kristen di Amsterdam pada 25-26 Oktober 1938.  Natsir sangat peduli dengan Konferensi tersebut, yang antara lain menyorot secara tajam kondisi umat Islam Indonesia. Dr. Bakker, seorang pembicara dalam Konferensi tersebut mengungkapkan kondisi umat Islam sebagaimana yang digambarkan dalam buku Prof. Dr. H. Kraemer, The Christian Message in a non-Christian World.

Kata Dr. Bakker, ”Orang Islam yang berada di bawah pemerintahan asing lebih konservatif memegang agama mereka dari negeri-negeri yang sudah merdeka.”

Dr. Baker juga mengungkap tentang pengaruh pendidikan Barat terhadap umat Islam. Katanya, ”Masih juga banyak orang Islam memegang agama mereka yang turun-temurun dari dulu itu, akan tetapi banyak pula yang sudah terlepas dari agama mereka, terutama lantaran pelajaran Barat yang katanya netral itu telah merampas dasar lain yang akan gantinya.”

Karena itulah, Mohammad Natsir sangat peduli akan pengaruh pendidikan Barat terhadap generasi muda. Ia menulis, bahwa ketika itu, sudah lazim dijumpai anak-anak orang Islam yang telah sampai ke sekolah-sekolah menengah yang belum pernah membaca Al-Fatihah seumur hidupnya, atau susah payah belajar membaca syahadat menjelang dilangsungkannya akad nikah.

Natsir menyebutkan bahwa Snouck Hurgronje pernah menulis dalam bukunya, Nederland en de Islam: ”Opvoeding en onderwijs zijn in staat, de Moslims van het Islamstelsel te emancipeeren.”  (Pendidikan dan pelajaran dapat melepaskan orang Muslimin dari genggaman Islam).

Selanjutnya, Dr. Bakker mengingatkan, bahwa kaum misionaris Kristen harus lebih serius dalam menjalankan aksinya di Indonesia, supaya di masa yang akan datang, Indonesia tidak lebih susah dimasuki oleh misi Kristen. Menanggapi rencana Misi Kristen di Indonesia tersebut, Natsir mengimbau umat Islam: ”Waktu sekaranglah kita harus memperlihatkan kegiatan dan kecakapan menyusun barisan perjuangan yang lebih rapi. Jawablah Wereldcongres dari Zending itu dengan congres Al-Islam yang sepadan itu ruh dan semangatnya, untuk memperteguh benteng keislaman. Sebab tidak mustahil pula di negeri kita ini, suara azan bakal yang tersusun rapi, akan mengalahkan barang haq yang centang-perenang.!”

Artikel Mohammad Natsir dimuat di Majalah PANDJI ISLAM, No. 33-34, tahun 1938 (Dikutip dari buku M. Natsir, Islam dan Kristen di Indonesia (kumpulan karangan yang dihimpun dan disusun oleh Endang Saifuddin Anshari, (Bandung: CV Bulan Sabit, 1969).

Semoga umat Islam Indonesia dapat belajar dari pengalaman sejarah. Masih ada waktu melakukan introspeksi dan melakukan berbagai perbaikan. 

Wallahu A’lam bish-shawab. 



-billqishofc

Komentar

Postingan populer dari blog ini

LIFE GOALS ?

Hallo Desember, akhir penutup tahun 2020 Tepat di usia gue yang menginjak dewasa,Gue  memikirkan banyak hal, seperti “Apa sih yang mau Gue capai dalam hidup?” atau “kalau gue meninggal, hal apa yang ingin gue tinggalkan?” Pertanyaan — pertanyaan ini lah  y ang membuat gue berpikir, kalau gue ingin membuat Life Goals! Sebelumnya gue adalah orang yang akan selalu membuat resolusi setiap tahun, Long Term Goals dengan durasi 10 tahun, tapi kali ini gue merasa gue butuh goals untuk seumur hidup! Life Goals adalah hal yang ingin kamu wujudkan, yang penting dalam hidup kamu di berbagai aspek kehidupan. Itulah kenapa Life Goals setiap orang akan berbeda, kamu tidak akan bisa “nyontek” karena apa yang penting dan berarti dalam hidup setiap orang tidak lah sama. Jadi gini, mungkin dari sebagian temen temen kebayakan awalnya mikir itu pertanyaan becandaan doang, bener sih bercanda doang. Tapi temen temen, kalo kita telaah dengan baik, itu cukup menyindir buat sebagian orang khususnya ana...

pandangan Islam dalam menyikapi permasalahan anak muda "Pacaran VS Jomblo"

 Pada masa kini, banyak pemuda dan pemudi yang miris, karena mereka sangat erat dengan tren berpacaran. Muncul pemahaman bahwa tak punya pacar alias jomblo seperti kalian (hehe) itu adalah menyedihkan.  Bahwa muncul pemahaman kalau pemuda dan pemudi yang baik adalah pemuda dan pemudi yang punya pacar alias tidak jomblo. Kalaupun demikian, sungguh miris juga bagi saya karena saya juga tidak punya pacar, alias jomblo. hehehe.  Namun apakah benar kalau pacaran itu enak kawan-kawan sekalian? Ada yang bilang pacaran itu enak, tapi pas putus bikin mewek. Ada yang bilang pacaran itu membuat bahagia, tapi kenyatannya banyak yang galau setelah punya pacar. Kok tahu ustadz? Ya saya pernah baca-baca berita saja, karena saya selalu saja jomblo, hehehe. Ada kisah, seorang laki-laki bernama Adi. Dia laki-laki setia dan mencintai Fitri. Fitri pun mencintai Adi dan mereka memutuskan pacaran. Setiap waktu isinya hanya jalan-jalan, kalau tidak bertemu katanya keduanya galau, kalau tidak ja...

Pembahasan Fiqih

 Fiqih menurut bahasa berarti ‘paham’, seperti dalam firman Allah: “Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun?” (QS. An Nisa: 78) dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya panjangnya shalat dan pendeknya khutbah seseorang, merupakan tanda akan kepahamannya.” (Muslim no. 1437, Ahmad no. 17598, Daarimi no. 1511) Fiqih Secara Istilah Mengandung Dua Arti: Pengetahuan tentang hukum-hukum syari’at yang berkaitan dengan perbuatan dan perkataan mukallaf (mereka yang sudah terbebani menjalankan syari’at agama), yang diambil dari dalil-dalilnya yang bersifat terperinci, berupa nash-nash al Qur’an dan As sunnah serta yang bercabang darinya yang berupa ijma’ dan ijtihad. Hukum-hukum syari’at itu sendiri. Jadi perbedaan antara kedua definisi tersebut bahwa yang pertama di gunakan untuk mengetahui hukum-hukum (Seperti seseorang ingin mengetahui apakah suatu perbuatan itu wajib atau sunnah, haram atau makruh, ataukah m...