Nilai Buku
Sebagaimana wujud yang bergradasi, nilai buku pun bergradasi. Bagaimana mungkin, buku yang mengajarkan jalan-jalan langit, sama nilainya dengan buku yang mengajarkan jalan-jalan bumi? Apakah sama nilainya, buku yang mengenalkan hakikat realitas dengan buku yang mengenalkan aksiden realitas, buku yang menumbuhkkembangkan akal, dengan buku yang memanjakan rasa?
Nilai buku dilihat dari nilai ilmu yang dikandungnya. Nilai ilmu dilihat dari urgensinya pada kemanusiaan. Ilmu apa yang paling urgen bagi kemanusiaan, yang manusia celaka bila tak mengetahuinya? Itulah buku yang paling bernilai.
Dengan ini, dibutuhkan pengetahuan filosofis yang objektif ihwal hakikat dan kebutuhan hakiki manusia, untuk menjawab pertanyaan, buku apa yang paling bernilai, paling urgen, paling dibutuhkan dan paling bermanfaat bagi manusia.
Kita diperhadapkan pada beragam jenis buku. Kita juga diperhadapkan pada ringkasnya waktu. Sehingga, membaca dan memahami semua buku, adalah hal yang tidak memungkinkan, sebagaimana tidak memungkinkannya menjadi ahli dalam segala bidang. Kematian terus saja mengepakkan sayapnya di atas kepala. Beruntung jika ilmu yang paling bernilai telah dipahami, sebelum sayap kematian turun mencengkeram.
Membaca buku itu seperti mengenal manusia atau berkunjung ke suatu tempat. Ada manusia yang kita mengenalnya atau tidak, dia mengenal kita atau tidak, tidak ada pengaruhnya bagi kesempurnaan substansial diri. Pun juga, terdapat tempat yang kita kunjungi atau tidak, tidak ada efeknya pada kesempurnaan substansial.
Sebaliknya, ada manusia yang diri niscaya merugi, bila kita tak mengenalnya atau tak dikenalinya, itulah manusia-manusia sempurna yang mengajarkan kesempurnaan, dekat dengannya adalah dekat dengan kesempurnaan, jauh darinya adalah jauh dari kesempurnaan.
Ada juga tempat, yang diri merugi bila tak mengunjunginya, itulah majlis-majlis ilmu hakikat, yang orang-orang di dalamnya sibuk menyingkap hakikat realitas, membincang tentang hakikat keberadaan;Tuhan dan ciptaan.
Pun halnya dengan buku. Buku kedokteran, tata bahasa, fisika, ekonomi dll, mungkin urgen bagi manusia, tapi belum tentu menimbulkan masalah eksistensial yang serius, bila ada manusia yang tidak membaca dan memahami buku-buku tersebut.
Tapi ada buku, yang bila manusia tidak membaca dan memahami ilmu yang dikandungnya, niscaya manusia akan beroleh masalah eksistensial yang serius.
Dan itulah buku yang mengajarkan manusia ihwal hakikat realitas, utamanya hakikat manusia dan Tuhan. Itulah buku yang urgensinya melintasi ruang dan waktu. Itulah buku yang metafisik. Itulah buku yang wajib dipahami oleh setiap mukminin dan mukminat. Itulah buku yang mesti dikaji di sepanjang hayat. Itulah buku yang menunjukkan 'jalan pulang', jalan harmonisasi. Itulah buku yang diajarkan para Nabi, utamanya Rasul Saw. Dan itulah buku, yang buku-buku lain beroleh nilai di bawah naungannya.
Maka hidup, bukan tentang seberapa banyak manusia yang anda kenal dan mengenalmu, bukan tentang seberapa banyak tempat yang anda kunjungi, bukan pula tentang seberapa banyak buku yang anda baca. Hidup adalah tentang siapa yang anda kenal dan mengenalmu, tentang tempat mana yang anda kunjungi, dan tentang buku apa yang anda baca.
Apalah artinya mengenal dan dikenal semua manusia, jika Rasul Saw tak dikenali dan tak mengenal diri kita. Apalah artinya berkunjung ke setiap tempat wisata, bila kaki tak pernah melangkah ke majlis ilmu hakikat. Apalah artinya menguasai beragam buku, bila buku yang mengajarkan 'jalan pulang' tak pernah dikaji.
Buku adalah cermin pikiran penulisnya. Sebagaimana tidak semua pikiran mencerahkan, pun juga tidak semua buku mencerahkan. Literasi harmonisasi bukan tentang membaca dan menulis, tapi tentang apa yang selayaknya dibaca dan ditulis.
~billqish ofc
Komentar
Posting Komentar