Kalaupun ada entah kata, perbuatan, perasaan ataupun pemikiran yang tak pernah berhenti dipikirkan manusia dari masa ke masa, tak lain dan tak bukan tentulah CINTA. Cinta menjadi begitu serius dan mendalam ketika manusia mencoba untuk mengurai setiap bagiannya. Namun demikian, Cinta menjadi begitu lucu dan menggembirakan ketika manusia mencoba untuk bersentuhan dan menari bersamanya. Entahlah. Cinta memasuki segala jenis manusia dan semua problematikanya.
Dalam tebak-tebakan konyol tentang siapakah yang lebih dulu diciptakan: atau orang tua atau bayi, terkandung suatu fenomen kecil bahwa entah bayi ataupun orang tua, keduanya diawali dengan Cinta. Karena Cinta maka bayi lahir. Karena Cinta maka suami-isteri dipersatukan. “Orang tua” adalah buah dari persatuan suami-isteri dan “bayi/anak” adalah buah dari Cinta orang tua. Maka siapakah yang lebih dulu ada, atau orang tua atau bayi? Tanyakan pada Sang Cinta yang menjadikan mereka ada.
Dari segala macam pengalaman persentuhannya dengan Cinta, manusia kemudian mencoba untuk mencari apa itu Cinta, dari mana ia berasal dan ke mana ia pergi. Para musisi menjelaskan arti Cinta lewat syair-syair lagu dan musik mereka. Para penggubah puisi menjelaskan arti Cinta lewat jalinan kata-kata indah. Para pemahat menorehkan Cinta lewat hasil karya seni pahatnya. Para pendaki gunung merasa menemukan Cinta ketika mereka berjalan setapak demi setapak mendaki gunung-gunung. Para sufi menemukan cinta dalam keheningan dan meditasi mereka tentang kehidupan. Lantas dimanakah dan apakah Cinta di tengah segala macam keberagamannya ini?
Cinta Plato
Bagi Plato, Cinta adalah sebuah kekuatan, sebuah penggerak bagi jiwa untuk selalu mengarah pada Sang Idea. Di dunia, jiwa manusia adalah pengembara yang berjalan untuk kembali kepada Sang Idea. Jiwa manusia adalah itu yang selalu terhubung pada Dunia Idea. Jiwa manusia tak pernah berhenti mencari Sang Idea agar ia dapat kembali ada kesatuan asalinya. Mengapa? Karena dari sanalah jiwa manusia yang abadi itu berasal.
Kekuatan yang menggerakkan jiwa manusia sehingga tak pernah berhenti mencari Sang Idea adalah Cinta. Cinta tak bisa mematikan. Cinta menghidupkan. Cinta menggairahkan jiwa-jiwa yang lelah mengembara di dunia. Dalam gairah itu, jiwa manusia berkelana mengenali pasangan jiwanya. Mengapa? Karena konsep platonian memperkenalkan jiwa manusia sebagai satu kesatuan asali. Itulah sebabnya ketika satu pasang manusia sedang jatuh cinta, mereka terarah untuk menyatukan seluruh hidup mereka. Sudah pada kodratnya, menurut Plato, manusia digerakkan oleh Cinta untuk bersatu.
Plato melihat bahwa manusia-manusia terbaik adalah mereka yang memiliki Cinta di dalam dirinya. Sebagaimana ia membagi fungsi jiwa manusia ke dalam 3 bagian: epithumea (nafsu makan, minum, seks), thumos (afeksi, rasa, semangat, agresi) dan logistikon (berpikir), Plato mengelompokkan manusia terbaik sebagai manusia yang mencintai kebijaksanaan (philosopos). Plato meyakini bahwa Cinta yang menggerakkan manusia terbaik ini untuk mencari apa yang terbaik bagi dirinya, yaitu kebijaksanaan. Cinta memang menggerakkan manusia untuk menemukan hal terbaik bagi hidupnya.
Ontologi Cinta Paul Tillich
Paul Tillich melihat Cinta pertama-tama sebagai sebuah “kekuasaan yang menggerakkan kehidupan”. Cinta menjadi semacam motor utama yang menggerakkan roda kehidupan. Kehidupan sendiri merupakan sebuah aktualitas. Kehidupan tidak berada dalam ranah “maya” melainkan “nyata”. Oleh Paul Tillich, frasa-frasa di atas menunjukkan bagaimana hakekat ontologis dari Cinta. Ada (kehidupan) tidak akan menjadi aktual tanpa Cinta yang mendorong suatu ada pada ada yang lainnya. “Ada” menjadi semacam “Tidak Pernah Ada” tanpa Cinta.
Dalam pengalaman pribadi manusia tentang Cinta, kehidupan dapat terwujud secara hakiki. Mengapa demikian? Karena Cinta adalah penggerak utamanya. Maka roda kehidupan tanpa Cinta adalah mustahil. Relasi, yang menjadi dasar komunitas manusia, ada karena Cinta yang menggerakkan beberapa pihak untuk berkumpul. Manusia dapat menjadikan dirinya Ada dan bergerak karena ada Cinta yang mendorongnya.
Paul Tillich kemudian melihat bahwa segala yang Ada ini pada mulanya satu di dalam Cinta.[4] Cinta adalah pengikat yang menjadikan segala yang Ada ini satu dan utuh. Dengan demikian, hakekat dari Cinta adalah mempersatukan apa yang pada mulanya sudah satu dan utuh. Cinta tidak mempersatukan apa yang sejak semulanya terpisah. Artinya, Cinta bukanlah dia yang memungut segala “benda” yang secara esensial terpisah lalu kemudian menjadikannya satu laiknya sesuatu yang sejak awal adalah satu. Apa yang secara esensial terpisah tak bisa dijadikan satu. Cinta hanya menyatukan apa yang sejak awal berasal dari satu kesatuan asali.
Paul Tillich ingin menunjukkan bahwa Cinta berproses seperti medan magnet yang menarik hanya unsur besi yang sejak semula berasal dari kesatuan asalinya sebagai besi. Cinta itu menarik kembali apa yang berasal dari padanya. Cinta itu memeluk apa yang sejak semula berasal dari pelukannya. Ia tidak memeluk apa yang bukan dari dirinya.
Ontologi Cinta Paul Tillich ini menunjukkan bahwa Cinta pada hakekatnya adalah satu, hanya sifatnya yang beragam. Keberagaman sifat Cinta ini tidak menjadikan Cinta dalam jenis yang berbeda. Cinta adalah satu, dari titik inilah orang pertama-tama harus mulai memahami Cinta. Entah kemudian orang mengenal Eros, Agape, Epithymia dan lain sebagainya, itu hanyalah sifat-sifat Cinta dilihat dari bagaimana orang memandangnya.
Ada satu bagian dari pemikiran Paul Tillich dalam melihat fenomen “Cinta Diri” yang kerap muncul dalam pembicaraan manusia dari masa ke masa. Benarkah konsep Cinta Diri? Mengapa frasa ini kemudian menjadi kajian pemikiran Paul Tillich juga dalam memahami ontologi Cinta? Pada bagian awal sudah dijelaskan bagaimana Cinta merupakan dia yang mempersatukan apa yang sejak awal berasal dari kesatuan asali. Karena mempersatukan, berarti ada unsur keterpisahan. Lantas ketika manusia mengalami “Cinta Diri”, apakah ia mengalami keterpisahan dengan dirinya? Paul kemudian memahami bahwa Cinta Diri merupakan sebatas metafora yang tidak memiliki ruang dalam realitas.Sebagai metafora, Cinta Diri bisa diterjemahkan dalam beragam konteks.
Misteri Cinta Gabriel Marcel
Bagi Gabriel Marcel, Cinta merupakan suatu tindakan yang berasal dari manusia merdeka yang dengan kemerdekaanya kemudian memutuskan untuk mencintai orang lain atau sesamanya. Cinta itu aktif: entah saya ingin men-Cinta-i orang lain atau tidak, itu hak saya. Berikut merupakan ungkapan Gabriel Marcel yang diterjemahkan oleh Mathias Hariyadi dalam bukunya Membina Hubungan Antar Pribadi: Berdasarkan Prinsip Partisipasi, Persekutuan, dan Cinta Menurut Gabriel Marcel[7]:
Cinta itu datang bagaikan sebuah himbauan. Ia datang seperti panggilan dari Aku ke Aku yang lain… Justru karena saya bertemu pribadi orang itu, maka ketertarikan saya untuk mencintainya muncul bukan karena orang itu memiliki banyak hal yang menarik saya, melainkan saya mencintainya justru karena Ia adalah Ia.
Dengan demikian, Gabriel Marcel menyadari bahwa Cinta tak berasal dari pengalaman luar manusia. Cinta berasal dari diri manusia di mana Cinta sendiri memanggil manusia yang lain untuk selalu mengadakan hubungan Aku–Engkau antar manusia.
Gabriel Marcel mengatakan bahwa memahami Cinta adalah sebuah kemustahilan. Tak mungkin manusia dapat memahami Cinta. Cinta bukanlah objek yang dapat dengan mudah dikaji. Cinta adalah misteri! Karena misteri, Cinta hanya dapat dipahami oleh pihak-pihak yang sedang berada dalam pelukan Cinta. Cinta adalah pengalaman yang sangat personal, yang dialami oleh mereka yang saling men-Cinta-i.
Karena bagi Marcel Cinta adalah sebuah misteri, maka hanya dengan menceburkan diri ke dalamnya manusia dapat mengerti dan merasakan arti Cinta. Artinya, hanya dalam keterlibatan atas “Aku men-Cinta-i Engkau” manusia dapat sekaligus menjadi subjek dan objek dari proses men-Cinta-i.Ia berpartisipasi di dalamnya.
Pertemuan antara Aku dan Engkau dalam ikatan Cinta itulah yang membuat “Kita” menjadi nyata. Cinta inilah yang menghadirkan persekutuan antar manusia. Cinta semacam ini bersifat transenden karena mengatasi manusia antar pribadi. Ketika men-Cinta, manusia mentransendensi dirinya dengan cara keluar dari sifat individualnya dan bergabung dalam individualitas sesama yang ia Cinta-i. Ia berpartisipasi aktif dalam individualitas sesamanya.
Maka hanya dengan Cinta, manusia pada akhirnya dapat mengalami kepenuhan dalam eksistensinya sebagai manusia. Ia menjadi manusia penuh dalam Cinta. Ia utuh. Ia satu. Ia adalah Cinta itu sendiri, akhirnya.
Apakah Cinta merupakan sebuah seni?
Apakah Cinta adalah sebuah seni? Dengan mengatakan seni, berarti Cinta mengandung unsur keindahan. Adakah keindahan dalam Cinta? Erich Fromm mencoba mendalami arti Cinta dengan pertanyaan sederhana semacam ini. Jika bukan sebuah seni, apakah Cinta merupakan sebuah kesenangan belaka? Bagi Fromm, masalah dewasa ini adalah jamaknya manusia yang menekankan sisi being loved (dicintai) daripada loving (mencintai). Manusia merasa berarti ketika dia dicintai oleh sesamanya dan kemudian merasakan sebuah beban ketika dia harus mencintai orang lain. Semacam inikah Cinta yang disebut seni itu?
Banyak orang berpikir bahwa to love (mencintai) adalah sebuah persoalan sederhana, apalagi pada abad ini. Persoalan Cinta selalu dikaitkan dengan pernikahan. Apa maksudnya? Pada manusia jaman ini, Cinta menjadi hal yang direduksi hanya pada pra-syarat untuk menikah. Pernikahan adalah sebuah kontrak sosial dimana Cinta menjadi syaratnya. Dengan demikian, Cinta menjadi begitu kecil, hanya berputar pada lingkaran pernikahan.
Sesederhana itukah Cinta? Erich Fromm melihat Cinta sebagai jawaban atas permasalahan eksistensial manusia. Ketika manusia diciptakan, ia langsung dapat menyadari bahwa dirinya itu sendiri dan terasing dari yang lainnya. Apa yang terjadi pada Adam dan Hawa pada kisah penciptaan menggambarkan bagaimana situasi dosa menjadikan manusia memiliki jarak pada diri dan sesamanya. Adam menjadi malu pada Hawa, begitu juga sebaliknya, karena mereka tahu kalau mereka telanjang. Fromm melihat bahwa kesadaran akan keterpisahan mereka sebagai manusia, tanpa adanya penyatuan oleh Cinta, yang menjadikan Adam dan Hawa malu. Hal ini juga yang muncul ketika manusia mengalami rasa bersalah dan terasing.
Dengan demikian, hanya Cinta yang kemudian dapat mempersatukan manusia pada kodrat asalinya yang satu dan tak “malu” pada sesamanya. Hanya Cinta yang dapat menjadikan manusia sebagaimana keadaannya saat pertama kali diciptakan di mana tak ada kebencian dan kejahatan. Tanpa Cinta, humanitas tak akan pernah ada barang seharipun, kata Erich Fromm.
Berikut ada kutipan menarik dari tulisan Erich Fromm dalam bukunya, The Art of Loving:
Love is an activity, not a passive effect; it is a ‘standing in’, not a ‘falling for’. In the most general way, the active character of love can be described by stating that love is primarily giving, not receiving (Erich: 1957).
Memang benar. Cinta memang bukan tentang “jatuh cinta” melainkan berdiri menerima Cinta. Manusia tidak menerima dalam keadaan jatuh (falling for), melainkan berdiri menyambutnya (standing in). Ketika merasakan Cinta, manusia berdiri di dalamnya, menikmati setiap sisi dan sentuhan Cinta. Ketika merasakan Cinta, manusia mengalami kepenuhan kodratinya sebagai manusia. Ketika dua manusia mengalami Cinta, yang ada dalam diri mereka hanyalah kesatuan, bukan keterpisahan.
Dalam hal ini pula Erich Fromm memperoleh kebenarannya, yaitu ketika ia mengatakan bahwa hanya Cinta yang dapat membawa manusia pada keadaan awalinya yang satu dan tanpa malu. Dalam Cinta, manusia dapat melihat sesamanya bukan sebagai yang asing melainkan dirinya yang lain. Demikianlah Cinta kemudian merasuki segenap manusia.
menurut saya,
Cinta memang menakjubkan. Apakah yang lebih kuat dari Cinta? “Karena Cinta kuat seperti maut, kegairahan gigih seperti dunia orang mati, nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api TUHAN! Air yang banyak tak dapat memadamkan Cinta, sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya. Sekalipun orang memberi segala harta benda rumahnya untuk Cinta, namun ia pasti dihina” . Kekuatannya sungguh tak terkira. Mengapa? Mungkin karena kekuatannya sendiri berasal dari Sang Cinta sendiri. Pencipta menciptakan Cinta sebagai kekuatan yang mampu menyelimuti dunia tanpa kecuali. Bahkan penjahat yang paling kejam sekalipun tetap memiliki Cinta dan belas kasih.
Akhirnya, Cinta memang menjadi sebuah cerita indah tiada akhir. Cinta tak berujung. Ia menggerakkan manusia dalam lorong-lorong kehidupannya. Cinta men-Cinta-i Cinta sehingga pada hati di mana Cinta berkuasa, di situlah Cinta akan bertemu dan berpelukan. Terima kasih Cinta!
Komentar
Posting Komentar