Pada masa kini, banyak pemuda dan pemudi yang miris, karena mereka sangat erat dengan tren berpacaran. Muncul pemahaman bahwa tak punya pacar alias jomblo seperti kalian (hehe) itu adalah menyedihkan.
Bahwa muncul pemahaman kalau pemuda dan pemudi yang baik adalah pemuda dan pemudi yang punya pacar alias tidak jomblo. Kalaupun demikian, sungguh miris juga bagi saya karena saya juga tidak punya pacar, alias jomblo. hehehe.
Namun apakah benar kalau pacaran itu enak kawan-kawan sekalian? Ada yang bilang pacaran itu enak, tapi pas putus bikin mewek. Ada yang bilang pacaran itu membuat bahagia, tapi kenyatannya banyak yang galau setelah punya pacar. Kok tahu ustadz? Ya saya pernah baca-baca berita saja, karena saya selalu saja jomblo, hehehe.
Ada kisah, seorang laki-laki bernama Adi. Dia laki-laki setia dan mencintai Fitri. Fitri pun mencintai Adi dan mereka memutuskan pacaran. Setiap waktu isinya hanya jalan-jalan, kalau tidak bertemu katanya keduanya galau, kalau tidak jawab Whatsapp jadi galau, galau dan galau saja isinya. Keduanya berpacaran terus hingga bertahun-tahun.
Tahun ganti tahun, hingga keduanya memutuskan untuk menikah. Dan saat menikah ternyata orang tua Fitri tidak setuju dengan Adi, dan Fitri hendak dinikahkan dengan Hendri. Dan singkat kata, Fitri menikah dengan Hendri.
Moral cerita di atas adalah, Adi adalah sosok yang baik dan setia, yaitu baik dan setia karena rela menjaga jodoh orang lain dengan baik, hehehehe.
Itulah pacaran dan cinta-cintaan, tak ada gunanya dan tak ada manfaatnya, karena pacar belum tentu menjadi jodoh dan pendamping di pelaminan.
“Cinta adalah pengorbanan, tapi kalau pengorbanan mulu sih namanya penderitaan.” kata Cak Lontong. Jadi agar pengorbanan tidak sia-sia, mari kita gunakan cinta kita untuk berkorban pada pasangan jodoh kita kelak, yes. hehehe.
Jadi, daripada kita mengorbankan waktu, uang dan pikiran kita pada seseorang yang bisa jadi dia adalah jodoh orang lain, maka lebih baik kita simpan pengorbanan kita untuk orang yang benar-benar jodoh kita kelak, betul tidak?
lalu bagaimana kalau kita diam-diam mencintai seseorang? Apakah hukumnya boleh? Kawan-kawan sekalian, cinta itu tak bisa dipaksakan. Datang tak diundang, pergi tak diantar, cieh-cieh. Tapi yang harus kita tahu adalah cinta itu harus selalu berada di dalam hati, tak perlu diungkapkan. Biar Allah saja yang tahu cintaku padamu, wahai nasi goreng hehehe.
Kalaupun kita mencintai lawan jenis, itu bisa jadi wajar saja karena cinta tak bisa dipaksakan. Namun jangan sampai cinta kita mendatangkan madharat, berupa zina yang merupakan dosa besar. Dalam hadis disebutkan:
Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah berkhalwat (berduaan) dengan seorang wanita tanpa dsertai mahram nya karena sesungguhnya yang ketiga adalah syetan”. (HR Ahmad).Jadi kawan-kawanku sekalian, kita sebagai muslim yang baik harus selalu menjaga diri dari pengaruh syetan dengan menjaga pandangan dan diri kita dari hal-hal yang diharamkan. Kalaupun cinta, maka munajatlah semoga Allah menjadikan dia jodoh kita, bukan jodoh orang lain hehehe.
Lebih baik jomblo kalau jomblo dekat Allah, karena pacaran percuma kalau hanya menjauhkan diri dari Allah.
Wahai kawan-kawanku, “Jangan rindu berat, karena kamu gak akan kuat. Biar aku saja yang merindukan kalian, sekalipun diriku tambah berat badan.”
Wahai kawan-kawanku, “Jangan rindu berat, karena kamu gak akan kuat. Biar aku saja yang merindukan kalian, sekalipun diriku tambah berat badan.”
Bre, Sis fillah....
Meskipun punya cinta, sebaiknya cinta itu kita haturkan kepada Allah agar doa kita diberi ijabah, karena kalau cinta kita, kita berikan pada seseorang, bisa jadi orang itu mengambil dan membuangnya sehingga kita kehilangan cinta,
semoga bermanfaat dan mengurangi beban di hidup kalian. Yang punya hutang ingat bayar hutangnya karena kalau tidak bayar ya berarti tetap punya hutang, hehehe.
#part1
_billqishofc
Bunga kenanga daun kemangi
BalasHapusTulisan ini sungguh menyentuh hati
Alhmdulillah,
Hapus