Mengapa Israel tidak menyerang reaktor nuklir Iran dengan Angkatan Udara mereka seperti pada Osirak, Irak (1981) dan di Deir Az Zour, Suriah (2007)?
Aha! Pertanyaan bagus! Buat pembaca yang kurang tahu, saya jabarkan dulu Osirak dan Deir Ez Zour.
Osirak (1981)
Tahun 1976 pemerintah Irak membeli reaktor riset kelas Osiris dan kelas Isis dari Prancis. Irak dan Prancis menandatangani kesepakatan kerja sama nuklir. Reaktor itu dibangun pada 1979 di dekat Baghdad. Reaktor utama itu dinamakan Osirak/Osiraq (Osiris + Iraq) oleh pemerintah Prancis. Kedua negara ini berkeras bahwa proyek ini adalah untuk tujuan damai, bukan untuk membuat senjata nuklir.
Tapi tentunya ini tidak dipercaya oleh Israel. Jadi Mossad mengirim agennya untuk menyabot komponen Osirak yang sedang dalam perjalanan ke Irak pada 1979 dan bahkan membunuh ilmuwan nuklir Mesir Yahya El Mashad, yang mengepalai program nuklir Irak, di Paris pada 1980. IDF juga sudah menyiapkan model real-size untuk pilot-pilot AU-nya latihan mengebom situs itu. Sementara itu menlu Israel Moshe Dayan berusaha membujuk Prancis supaya menghentikan perjanjian nuklirnya dengan Irak dan membatalkan pengiriman reaktor, tapi tidak berhasil. Akhirnya PM Menachem Begin memutuskan untuk mengambil opsi militer.
Menariknya, sebelum Israel menjalankan operasi ini, Iran ternyata sudah menyerang duluan (di saat-saat ini Perang Irak-Iran baru saja pecah). AU Iran mengirim empat F-4E Phantom untuk mengebom instalasi itu pada 30 September 1980. Mengira bahwa reaktor utama sudah diisi bahan bakar, Iran takut mengebom reaktor utama akan menyebabkan bencana radiasi besar. Sehingga mereka hanya menyerang fasilitas-fasilitas di sekelilingnya.
Walaupun pemerintah Republik Islam Iran bermusuhan dengan Israel, tapi Israel berhasil menemui utusan Ayatollah Khomeini di Prancis yang membagi informasi tentang serangan itu, sebulan sebelum serangan Israel. Iran juga mengijinkan pesawat-pesawat Israel untuk mendarat di bandara Tabriz jika keadaan darurat. Mungkin untuk Iran waktu itu ancaman Sadam Hussein lebih genting daripada Israel.
Operasi Opera akhirnya dijalankan pada 7 Juni 1981 dengan delapan F-16A untuk mengebom dan enam F-15A untuk support tempur. Rutenya dipilih lewat wilayah udara Yordania dan Saudi, masuk ke perbatasan Saudi-Irak yang tidak terdeteksi radar. Di perbatasan ini Irak memang lengah karena beranggapan mereka tidak akan perang melawan Arab Saudi. Lubang ini yang digunakan Israel untuk menyelinap masuk dan keluar.
Menarik bahwa karena pesawat-pesawat ini terbang rendah, di Teluk Aqaba ternyata ada Raja Hussein dari Yordania sedang liburan. Dia bisa melihat bahwa pesawat-pesawat itu dari Israel (dari tanda di badan pesawat). Sebagai mantan pilot pesawat AU, Hussein langsung bisa menduga mereka sedang terbang menuju Irak. Dia memerintahkan untuk memberitahu pemerintah Irak, tapi pesan itu tidak sampai. Sementara itu di wilayah udara Yordania pilot-pilot Israel bercakap dalam bahasa Arab dengan aksen Teluk, pura-pura jadi AU Saudi yang sedang latihan. Di wilayah udara Saudi mereka pura-pura jadi AU Yordania yang kelewatan terbang dari perbatasan. Begitu masuk ke Irak mereka terbang rendah sampai Osirak dan menghancurleburkan instalasi itu.
Serangan itu dikecam oleh dunia internasional karena belum ada bukti bahwa Irak mengembangkan senjata nuklir di situ. STRATFOR menulis di 2007 bahwa reaktor itu mendekati ambang kemampuan untuk memproduksi plutonium untuk senjata nuklir. Tapi profesor fisika dari Harvard University Richard Wilson mengatakan di tahun 2003 bahwa hasil dari pengamatan dia ke lokasi pengeboman pada 1982 bisa disimpulkan bahwa reaktor itu tidak bisa digunakan untuk membuat senjata nuklir. Irak juga ikut menandatangani NPT, jadi seharusnya mereka masih dalam pengawasan IAEA. Dunia mengecam tindakan Israel ini.
Sadam Hussein karena murka memerintahkan untuk mengeksekusi komandan pertahanan udara barat Kol. Fakhri Hussein Jaber dan semua perwira di bawahnya yang pangkatnya di atas mayor. Ada 23 pilot dan perwira AU Irak juga dipenjarakan oleh Sadam.
Deir ez-Zor (2007)
Selama bertahun-tahun Mossad (intelijen luar negeri Israel) dan Aman (intelijen militer Israel) sudah mendeteksi adanya perjanjian senjata nuklir rahasia antara Suriah dan Korea Utara. Pada 2007 Mossad berhasil menemukan lokasi instalasi nuklir Suriah, yaitu di lokasi gurun bernama al-Kibar, Deir ez-Zor. Mossad berhasil memperoleh foto-foto instalasi tersebut dari darat (kemungkinan dari agen yang direkrut di dalam instalasi atau intel Mossad yang disusupkan ke sana). Lalu satu tim Sayeret Matkal (pasukan elit AD Israel) berisi 12 orang berseragam tentara Suriah menyelinap masuk ke instalasi ini dengan dua helikopter dan berhasil mengambil foto dan sampel tanah, yang mengkonfirmasi memang tempat itu adalah instalasi nuklir.
Karena instalasi ini sangat dirahasiakan, berbeda dengan Osirak, hampir bisa dipastikan bahwa tujuannya memang untuk militer. IAEA juga tidak dilibatkan dalam pengawasan instalasi ini. Jadi PM Ehud Olmert memutuskan untuk mengadopsi doktrin Begin, yaitu hajar duluan. AS (direktur CIA Michael Haydn) sebenarnya menentang opsi militer ini karena takut perang terbuka akan pecah. Tapi direktur Mossad Meir Dagan meyakinkan Haydn bahwa Suriah tidak akan menyerang balik dan Israel juga tidak akan dikecam, karena Israel akan menyangkal serangan itu dari mereka dan Suriah pasti tidak akan mau mengaku untuk menyelamatkan muka.
Jadi dilancarkanlah pada 6 September 2007 tengah malam. Tujuh F-15I Ra'am yang dikawal oleh beberapa F-16I Sufa dan pesawat ELINT masuk ke Suriah dengan melakukan jamming dan menghancurkan radar di Tel al-Abouad, jadi mereka masuk tidak terdeteksi sama sekali. Sementara itu satu tim pasukan komando Shaldag (pasukan khusus AU Israel) sudah tiba sehari sebelumnya di dekat instalasi itu. Begitu pesawat-pesawat mendekat, tim Shaldag menandai sasaran dengan laser untuk mengarahkan misil secara presisi. Seluruh instalasi itu hancur secara efektif. Skuadron pesawat tempur terbang pulang dan tim Shaldag kabur dengan helikopter.
Semua terbang balik lewat Turki. PM Ehud Olmert menelepon PM Turki Recep Tayyip Erdogan untuk minta maaf dan menitip pesan pada Presiden Suriah Bashar al-Assad bahwa Israel tidak akan melakukan serangan lanjutan, Israel tidak akan mengaku itu perbuatan mereka, asalkan Suriah tidak menarik perhatian pada peristiwa itu. (catatan: pada waktu itu Erdogan masih berhubungan baik dengan Israel dan al-Assad).
sumber : quoran.id
billqishofc
Komentar
Posting Komentar