Sejarah itu problem "otoritas", nukilan, dan taklid. Masing-masing memunculkan otoritasnya, alih-alih memverifikasi otoritas yang sudah tak mampu diuji lagi secara positif. Yang tersisa adalah persaksian-persaksian dari pelaku sejarah atau teks-teks dalam babad, kitab, atau artefak. Selalu muncul kontradiksi dan pandangan yang banyak. Lalu, mengkonstruksi peristiwa dengan menghubungkan satu artefak dengan artefak lainnya. Namun, sejauh mana kejujuran saksi-saksi sejarah itu? Sejauh mana fabrikasi sejarah bisa dilakukan dan dibongkar? Pada akhirnya, epistemologi sejarah hanya sampai pada ranah dugaan (zanniy), tak pernah mencapai keyakinan yang pasti (qath'iy).
Ada pandangan lain yang optimisme dengan sejarah, dengan bergantung pada kesaksian yang banyak, jujur, dan tak mungkin bersekongkol (mutawatir). Namun, sampai mana kesaksian-kesaksian itu bisa dikatakan jujur? Sedangkan peristiwa sejarah sudah musnah oleh waktu. Artefak hanyalah penanda (signifier) yang menunjukkan petanda (signified) sejarah. Namun, kesesuaian yang diungkapkan oleh penandan dan realitas petanda tidak akan pernah teruji secara positif. Yang dilakukan hanyalah kemungkinan probabilitasnya mendekati kepastian, tapi tak pernah mencapai kepastian.
Di satu sisi, dugaan sejarah memang tak mungkin ditolak mentah-mentah, selama ada bukti-bukti yang menambah nilai probabilitasnya. Tapi, bukan menunjukkan kepastian. Dalam sejarah, hanya ada probabilitas, tak ada kepastian, kecuali bagi pelaku sejarah itu sendiri. Itupun ketika pelaku sejarah menceritakan kejadian-kejadian yang dialami sangat besar kemungkinan dipengaruhi oleh latar belakang emosional dan ideologis dalam melihat kejadian-kejadian itu.
***
Kritik epistemologis ini sama sekali tidak menolak sejarah sebagai landasan pengetahuan yang kredibel. Tidak kurang banyaknya epistemologi penukilan yang pada akhirnya terbukti, meski sebagian sudah tidak bisa dibuktikan lagi karena dimusnahkan oleh waktu. Misalnya, piramida Mesir, menara Pisa, dan masyarakat Eskimo di kutub bumi. Mungkin saja, sebagian kita belum membuktikannya secara positif, hanya mengetahui melalui penukilan-penukilan di Sosmed, Google, atau pelajaran di SD. Namun, kepercayaan yang tidak saintifik (positif) itu mendatangkan keyakinan yang sangat sulit ditolak karena kemutawatirannya, karena banyaknya orang-orang yang jujur meriwayatkannya.
Tapi, mungkinkan semua berita-berita itu difabrikasi? Hanya klaim yang dibuat-buat untuk kepentingan tertentu? Bagi masyarakat awam yang tinggal di tengah hutan akan sangat skeptis mendengar berita-berita seperti itu. Namun, bagi yang sudah berkunjung ke sana, sudah terbukti secara empirik. Bagaimana dengan sejarah yang sudah berlalu puluhan, ratusan tahun lalu? Yang tidak mungkin dialami secara langsung, tetapi diberitakan dengan indah dalam bentuk teks yang menyihir pembacanya.
Terlepas dari semua itu, sejarah memang tidak membawa kepastian secara langsung. Namun, ditengah ketidakpastiannya, selalu ada celah-celah sejarah yang menunjukkan kenyataan yang terjadi di masa lalu saat itu.
***
_Nbarezatulbillqish
#Sejarah
#EpistemologiSejarah
Komentar
Posting Komentar